Friday, November 25, 2005

Akankah Guru memiliki arti di negeri ini________


Masih ingat slogan yang sering kita dengar bersama seusai Jepang diporakporandakan oleh sekutu pada Perang Dunia II melalui dua bom atom yang menerjang dua kota utama di negeri Sakura tersebut, beberapa hari sebelum kemerdekaan Indonesia terjadi, yang dipertanyakan oleh petinggi petinggi Jepang saat itu bukan bagaimana kondisi ekonomi, bukan bagaimana hal-hal yang sifatnya material belaka, melainkan yang pertama kali dipertanyakan adalah ‘berapa jumlah guru yang masih tersisa’. Hal ini menandakan betapa keberadaan pendidik sangat penting untuk kembali dari kubangan kehancuran.

Ho Chi Min (tokoh terkemuka di Vietnam) pernah berkata, No Teacher No Education, No Education No Economic and social development, sekali lagi tergambar jelas betapa negara-negara yang dahulu sempat hancur-hancuran sekarang menjadi raksasa ekonomi sangat menghargai kiprah penting guru untuk pembangunan negeri. Kita sama-sama melihat Jepang sekarang laksana negeri apung yang dapat memproduksi apapun juga, sedangkan Vietnam yang usia kemerdekaannya kurang lebih setengah dari usia republik ini telah memiliki angka pertumbuhan sumberdaya manusia (Human Development Index) jauh di atas negeri ini.

Penghargaan terhadap guru____

~ehm__ sorry lagi mellow neh~

anekdot yang sering saya dengar ‘memangnya berapa seh harganya seorang guru’, pemaknaan yang cukup mendalam melihat kondisi sekarang. Ketika saya pernah mengajar di beberapa sekolah menengah, saya senantiasa memberikan motivasi akan masa depan siswa-siswa saya, nah____ ketika saya bertanya kepada mereka akan goal atau cita-cita mereka, rata” dalam satu kelas tidak lebih dari dua hingga tiga orang saja yang bercita-cita menjadi seorang guru atau pengajar. Oleh karenanya anekdot di atas memberikan pemaknaan lebih bahwa guru tidak dapat dijadikan sandaran hidup. Hiii____Hiii____ hal ini mengingatkan saya ketika rekan bermain saya kecil dahulu sempat ada yang bercita-cita menjadi seniman (namun dilarang oleh orang tuanya yang seorang guru, dengan alasan seniman tidak dapat dijadikan pegangan hidup), namun sekarang dapat kita lihat bersama-sama, penghasilan seorang Joshua (penyanyi cilik) berapa puluh kali lipat dari tunjangan seorang professor. Lain dari itu pernah saya berdebat sengit yang akhirnya hanya jadi debat kusir semata, tentang perkataan dia yang menyatakan ‘kalau ingin miskin sebaiknya jadi guru saja’.

Rindu dan kangen akhirnya terbersit pada masa” lalu, dimana guru dapat berjalan gagah dan penuh wibawa, dihormati dan di anggap sebagai narasumber utama, setiap permasalahan yang ada di sebuah kampung selain kepala kampung, ulama atau pemuka kampung lainnya, guru yang ada di kampung tersebut pasti diundang untuk turut memecahkan permasalahan tersebut. Saat ini banyak guru” yang qt temui berjalan gontai sambil memikirkan apa yang akan dimakan untuk esok hari.

Banyak sudah guru” yang memiliki semangat ’45 ~semangat untuk mengajar di 4-5 sekolah, selain itu banyak lagi guru” yang rela menjadi pengojek hal itu dilakukan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Di Aceh beberapa saat sesudah terjadinya Tsunami setahun silam, harga diri guru jatuh___ sejatuh-jatuhnya, bayangkan (oke dikasih waktu dulu deh untuk menaruh telunjuk di jidat untuk membayangkan) bukannya bantuan itu diberikan langsung kepada guru yang bersangkutan melainkan menyuruh guru untuk meminta bantuan tersebut di kantor dinas dengan membawa ‘surat sakti’ dari sekolah. Hal yang sangat ironis juga terjadi saat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memberikan bantuan, guru” agama yang dating di tolak dengan alasan mereka bukan guru” yang berada di lingkungan Depdiknas, melainkan di bawah naungan Departemen Agama dan kesanalah mereka seharusnya meminta bantuan____

Hiksss_____

Sedih melihat kondisi yang ironis begitu, masih banyak fenomena tentang guru lainnya seperti guru honorer, guru bantu, bahkan guru odol____

To be continued_______

SELAMAT HARI GURU

~~Semoga Indonesia Lebih Baik!~~

0 Comments:

Post a Comment

<< Home