Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
(puisi ini dibacakan oleh Prof. Winarno Surahman dalam peringatan Hari Guru tanggal 27 November 2005 diperuntukkan untuk jutaan guru di seluruh nusantara di depan Wapres RI Jusuf Kalla yang tutup telinga atas kondisi guru di tanah air dan langsung marah setelah mendengar puisi ini , semoga berarti bagi pendidikan Indonesia)
Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.
Otonominya, kompetensinya,
profesinya hanya sepuhan pembungkus rasa getirBolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas muliaketika kami hanya terpinggirkantanpa ditanya,
tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?
Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharapdalam kondisi terburuk,
Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru semampu membaca buku usang sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengan gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta guru tua yang terlupakan oleh sejarah
~~Semoga Indonesia Lebih Baik!~~

0 Comments:
Post a Comment
<< Home